Hampir 70% Penularan HIV/AIDS dari Jarum Suntik
KESRA-- 20 JUNI: Hampir 70 persen penularan penderita HIV/AIDS di DKI Jakarta disebabkan pemakaian jarum suntik secara bergantian oleh para pecandu narkoba, 29 persen disebabkan perilaku seks bebas dan seks menyimpang, dan satu persen disebabkan pertukaran (transfusi) darah. Rata-rata penderita HIV/AIDS tersebut berusia 19-25 tahun.
Data dari Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) DKI Jakarta tersebut diungkapkan pada peluncuran program Pencegahan Primer Penyebaran HIV/AIDS dan Narkoba yang bertajuk Jakarta Stop AIDS., Kamis (18/6).
Program ini diselenggarakan PT Unilever Indonesia, Tbk melalui Yayasan Unilever Indonesia, bekerjasama dengan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), dan Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Pusat.
Acara peluncuran dihadiri, Drs Mohammad Effendi Anas, Msi, Asisten Kesejahteraan Masyarakat Sekretaris Daerah DKI Jakarta; Sylviana Murni, Walikota Jakarta Pusat; Asep Syarifuddin, Wakil Walikota Jakarta Pusat; dr Leo Indarwahono Public Health Education Program Manager Yayasan Unilever Indonesia; dr Iskandar Irwan Hukom.
Juga Sekjen Yayasan Cinta Anak Bangsa; Adhitya Putri, Duta Program Jakarta Stop AIDS/Public Figure; dan 160 siswa siswi dan para guru perwakilan sekolah-sekolah yang menjadi Duta Jakarta Stop AIDS.
Jakarta Stop AIDS merupakan program pencegahan primer penyebaran HIV/AIDS di kalangan anak muda yang rentan terhadap penyebaran virus mematikan ini.
Program ini bertujuan mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya remaja untuk sadar akan pentingnya memiliki pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS serta Narkoba, tahu penularan dan pencegahannya, dan peduli untuk menginformasikannya kepada lingkungan di sekitar, serta tahu bagaimana bersikap dan menerima ODHA (Orang Dengan HIV dan AIDS).
Leo Indarwahono mengatakan, agar program ini tepat sasaran dan tujuan, Univeler bekerjasama Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) yang telah berpengalaman dalam menangani masalah penyalahgunaan narkoba yang merupakan salah satu media penularan HIV/AIDS melalui pemakaian jarum suntik secara bergantian.
Program Jakarta Stop AIDS dicanangkan dalam bentuk Primary Prevention School Programme (Program Pencegahan Primer di Sekolah), yakni program penyadaran perilaku hidup bersih dan sehat dengan menghindari serta mencegah penyebaran dan penularan HIV/AIDS dan Narkoba, khususnya pada kalangan kelompok umur remaja.
Program ini dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat yaitu para guru dan para siswa dan siswi tingkat SMP dan SMA/SMK, pemerintah kota serta lembaga swadaya masyarakat (LSM). Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan berbagai kegiatan edukasi tentang HIV/AIDS dan Narkoba kepada para pelajar dan guru.
“Sebagai salah satu media pembelajaran, kami memberikan lembar balik School Program Jakarta Stop AIDS sebagai panduan bagi para Duta Jakarta Stop AIDS.
Dalam lembar balik tersebut peserta mendapat penjelasan tentang fakta mengenai HIV/AIDS, bagaimana penularan dan pencegahannya, mitos seputar HIV/AIDS, dan dijelaskan pula informasi seputar Narkoba, ungkap Leo.
Menurut Leo, karena informasi yang diberikan kepada para Duta Jakarta Stop AIDS ini disampaikan dengan bahasa yang dimengerti oleh anak muda, maka mereka nantinya yang akan menjadi peer educator kepada teman-teman mereka tentang pencegahan penyebaran HIV/AIDS.
Jakarta Stop AIDS merupakan lanjutan dari program serupa yang digelar Unilever di Surabaya, Jawa Timur yang bertajuk ”Surabaya Stop AIDS”.
“Melalui edukasi yang berkelanjutan ini, diharapkan seluruh elemen masyarakat, baik itu anak didik, guru, maupun masyarakat luas akan berperilaku hidup bersih dan sehat serta menjauhi segala macam bentuk aktivitas yang membawa akibat terjadinya
Rabu, 01 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar